Rabu, 23 Juli 2025

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 6

Challenge 6 : Perempuan Indonesia – Penjaga Lokalitas, Pelaku Aksi Global

 

Langkah 1 : Mengenali Perempuan Inspiratif

Saya membaca-baca artikel tentang tokoh perempuan yaitu Anne Avantie, seorang tokoh wanita  yang mempopulerkan kebaya di ranah Internasional. Karyanya bahkan pernah dipakai oleh selebriti, pejabat tanah air bahkan tokoh-tokoh internasional seperti Miss Universe. Anne Avantie adalah seorang perancang busana dan pelopor kebaya kontemporer yang memiliki ratusan karya luar biasa. Beliau dikenal karena karya-karyanya yang berbeda namun tidak meninggalkan unsur kebaya itu sendiri.

Nilai lokal yang dibawa ke dunia global adalah baju kebaya sebagai salah satu baju adat Indonesia ternyata bisa bersaing dengan gaun-gaun modern di ranah internasional.

Pelajaran yang bisa diambil untuk diterapkan dalam keluarga adalah bersungguh-sungguhlah dalam menekuni suatu bidang, karena semua bidang bisa membawa pada kesuksesan.

 

Langkah 2 : Aktivitas “Dari Desa ke Dunia”

Saya berasal dari Gresik, Jawa Timur dan merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di utara Pulau Jawa. Sehingga memang ragam kuliner lokalnya cukup bermacam-macam. Namun, saya memilih batik khas daerah yang akan dibahas.

Batik Gresik berkembang di Kabupaten Gresik, Jatim, sebagai wujud ekspresi budaya lokal. Motif-motif khas mencerminkan identitas daerah, seperti:

Loh Bandeng: dikembangkan oleh Anang Syamsul Arifin dari Sanggar Rumpaka Mulya di Wringinanom. Menggambarkan ikan bandeng sebagai produk unggulan Gresik, serta mengandung pesan persatuan dan keberagaman  .

Sekar Pudak: motif bunga pudak (pandan) dengan filosofi rukun iman dan kesucian  .

Pamiluto Ceplokan: motif yang menggambarkan keragaman karakteristik Gresik, meliputi industri, budaya, dan sejarah.

Saat ini ada Batik Korasi Giri yang juga melestarikan Batik khas Giri hingga membuat pelatihan/ aktifitas membatik untuk anak dan dewasa. Seperti gambar dibawah ini saat Ibu Profesional bekerjasama dengan Batik Korasi Giri untuk membuat acara Fun Holiday untuk anak-anak.


Sayangnya batik ini belum dikenal oleh dunia, bahkan di lokal pun belum banyak yang tau.

Langkah 4 : Rencana Aksi Keluarga Global – Local

.

.

.

#LokalKitaGlobalKita

#PerempuanIndonesiaMendunia

#KPI2025Global

 

 

 

 

 

Selasa, 22 Juli 2025

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 5

 

Challenge 5 : Menjaga Kearifan Lokal sebagai Identitas Nasional dan Penjaga Keseimbangan Sosial


Langkah 1 : Eksplorasi Kearifan Lokal di Sekitar

Saya adalah seorang pendatang di kota Gresik, datang kesini sekitar 12 tahun yang lalu karena diterima kerja. Dan Alhamdulillah ternyata bertemu jodoh juga dikota ini, meski kami sama-sama merantau. Dari 12 tahun menjadi warga Gresik tradisi yang masih dijalankan sampai saat ini adalah “HAUL” atau peringatan hari kematian, di Gresik sendiri banyak sekali tokoh yang HAUL nya diperingati bahkan dibuatkan acara hingga berhari-hari. Peringatan Haul ini dihadiri oleh ribuan bahkan ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah.

Makanan tradisional yang menjadi identitas daerah antara lain nasi krawu, pudak, jenang jubung, otak-otak bandeng, hingga berbagai macam olahan telur ikan.

Yang masih ada sampai sekarang di lingkungan tempat tinggal saya adalah upacara adat sedekah bumi saat memperingati hari jadi desa tersebut. Jadi ada acara pawai membawa aneka hasil bumi, kemudian malamnya wayang kulit.

Nilai lokal yang terkandung dalam kearifan lokal adalah gotong royong, cinta tanah air.

Langkah 2 : Kegiatan “Pekan Budaya Keluarga”



Keluarga kami memilih membacakan cerita rakyat sebelum tidur, atau mencari referensi bacaan tentang dongeng-dongeng nusantara.

Langkah 3 : Cerita Budaya Keluarga

Tradisi yang dulu sering dilakukan dan sekarang mulai hilang adalah menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil kepada yang lebih tua. Padahal dulu anak kepada orangtuanya ataupun kepada oranglain yang lebih tua selalu berbicara dengan menggunakan Kromo Inggil, namun semakin kesini jumlah orang jawa yang bisa berbicara kromo inggil semakin sedikit. Bahkan anak-anak jaman sekarang pun kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa jawa halus.

Langkah 4 : Komitmen Menjaga Kearifan Lokal

Piagam Penjaga Budaya Keluarga kami adalah akan menjaga kearifan loal bahasa jawa. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai-nilai menjunjung budaya dan cinta tanah air.

Komitmen tindakan nyata yang akan kami lakukan adalah berbicara bahasa jawa halus minimal satu minggu sekali.

.

.

.

#CeritaBudayaKeluarga #IdentitasNasionalKPI2025 #WarisanUntukAnakCucu

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 4

 

Challenge 4 : Nilai-nilai Luhur untuk Generasi Penerus

 

Langkah 1 : Mengenal Nilai-nilai Luhur Bangsa

Pada challenge ini saya masih berdiskusi dengan 2 anak terkait nilai-nilai luhur bangsa. Mengenalkan beberapa nilai luhur dan meminta anak-anak untuk menceritakan kira-kira keluarga kita sudah menanamkan nilai luhur tersebut atau belum dirumah.

Mana nilai yang paling sering diterapkan dalam keluarga : gotong royong

Mana nilai yang ingin kita latih lebih sering : malu berbuat salah

Apa contoh tindakan kecil yang mencerminkan nilai-nilai itu :

Gotong royong = saat pagi hari setiap anggota keluarga memiliki tugasnya masing-masing, saat saya memasak, suami yang membangunkan anak-anak dan menyapu rumah, kakak Echa menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri dan adik Nyanya mandi dan makan tanpa banyak drama.

Siapa tokoh bangsa yang mewakili nilai tersebut : Muhammad Hatta (Bapak Koperasi Indonesia) yang menginisiasi berdirinya koperasi sebagai bentuk gotong royong di bidang ekonomi.

 

Langkah 2 : Jurnal Nilai : “Aku Agen Perubahan”

 


Langkah 3 : Bermain Peran “Nilai-Nilai dalam Aksi”

Dalam hal ini saya tidak mengacak nilai apa yang akan dipilih anak-anak dalam bermain peran, namun saya membebaskan anak-anak untuk memilih nilai luhur apa yang akan dipraktekkan.

 



Seperti diatas, kakak echa memilih nilai luhur gotong royong yaitu dengan membantu mencuci piring.

Langkah 4 : “Misi Generasi Penerus”

.

.

.

#NilaiLuhurGenerasiBangsa #AgenPerubahanKPI2025 #KeluargaPembentukBangsa

Senin, 21 Juli 2025

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 3

Challenge 3 : Keluarga sebagai Basis Karakter Individu

dan Bangsa

 

Langkah 1 : Refleksi Nilai Keluarga

Masih berdiskusi hanya dengan 2 anak kicik, untunglah kakak Echa sudah berusia hampir 9 tahun jadi bisa diajak berdiskusi lebih dalam tentang Nilai Keluarga. Dan melihat bagaimana saya mendidik anak kami bersepakat nilai yang paling penting di keluarga kita adalah kasih sayang, mandiri dan tanggungjawab. Diawali dengan kasih sayang, banyak-banyak memberikan pelukan pada anak (dan suami), melatih mandiri sesuai porsi dan usianya juga bertanggungjawab terhadap dirinya dan tugasnya agar kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

Kami belajar nilai itu dari pengasuhan terdahulu, yaitu orangtua saya dan orangtua suami.

Contoh sederhana untuk kakak Echa, sepulang sekolah dia dirumah sendiri karena saya dan suami bekerja diranah publik. Dia sudah paham akan tugasnya dirumah, misalnya pulang sekolah ganti baju, mencuci piring dan menyapu. Nanti saat saya pulang kerja, dia sudah mandi dan tinggal makan sore saja serta belajar bareng saya.

Jika keluarga diibaratkan sebuah kapal, nilai yang menjadi kompasnya adalah saling peduli dan menyayangi.


Langkah 2 : Membuat “Deklarasi Nilai Keluarga”




Langkah 3 : Aktifitas “Karakter dari Rumah”




Langkah 4 : Cerita Keluarga untuk Bangsa

Kakak Echa sih yang menuliskan cerita ini “Kamu percaya bahwa keluarga kami bisa ikut membangun Indonesia yang lebih baik dengan cara menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab sehingga menjadi anak-anak yang tumbuh dengan ilmu yang luas dan adab yang baik”

.

.

.

#KeluargaMembangunBangsa #KPI2025 #KarakterDariRumah

 

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 2

 Challenge 2 : Sejarah Maritim dan Peran Perempuan Indonesia

 

Langkah 1 : Mengenal Perempuan dan Sejarah Maritim Indonesia

Ketika ada 3 pilihan pada challenge, saya langsung memilih Nyai Gede Pinatih atau kalau disini orang menyebutnya Nyai Ageng Pinatih. Kebetulan saya berdomisili di kota Gresik dan makam Nyai Ageng Pinatih ada dikota ini. Masyarakat Kota Gresik mengenal Nyai Ageng Pinatih sebagai ibu angkat yang mengasuh dan membesarkan sekaligus mendidik Joko Samudro atau lebih dikenal dengan nama Sunan Giri, salah satu wali dari 9 wali di Pulau Jawa.

Nyai Ageng Pinatih adalah tokoh wanita Islam Gresik yang merupakan seorang saudagar kaya raya yang sangat dihormati oleh Raja Majapahit, dan beliau merupakan Syah Bandar wanita pertama di Gresik. Karena beliau memenuhi syarat sebagai syahbandar yaitu menguasai berbagai bahasa, memahami ilmu perdagangan dan memiliki relasi yang luas.


Langkah 2 : Membuat “Peta Impian Maritim Keluarga”

Kami tidak menggambar sendiri Peta Indonesia, namun menggunakan buku Atlas Dunia dan meminta anak-anak untuk menunjuk jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Kebetulan ayahnya anak-anak sedang ada jadwal shutdown pabrik, sehingga pulangnya malem-malem jadi kami diskusi bertiga saja.



·         Laut / pulau mana yang ingin dikunjungi / dijaga

Echa : Pulau Ambon/ Kepulauan Maluku

Nyanya : Menunjuk Pulau Komodo

·         Yang ingin dilakukan untuk laut Indonesia

Echa : Melestarikan terumbu karang, tidak membuang sampah ke sungai/ selokan sehingga tidak merusak laut

Nyanya : membersihkan pantai

·         Cita-cita anak-anak terkait laut

Echa : Ingin naik kapal selam dan melihat serta memperbaiki alam bawah laut yang rusak

Nyanya : Ingin berenang di laut

 

Langkah 3 : Menyusun Komitmen Keluarga untuk Laut

Kami bertiga kemudian berdiskusi untuk menyusun Komitmen Keluarga untuk Laut yaitu :

“Kami sebagai keluarga Indonesia, berkomitmen untuk menjaga laut dan budaya maritim dengan cara

-          Tidak membuang sampah sembarangan

-          Belajar tentang laut Indonesia lebih dalam

-          Tidak mengkonsumsi hewan laut sembarangan

.

.

.

#Perempuan Maritim #KPI2025 #PetaImpianKeluarga

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 1

Challenge 1 : Refleksi Jati Diri Perempuan Indonesia



Alhamdulillah ditengah warwerwor repotnya acara keluarga (adik saya nikah), masih bisa menyempatkan diri untuk mengikuti opening dan Sesi 1 KPI secara tepat waktu. Meskipun pas ngerjain challenge ini telat banget, huhu… Tapi ku tetap berusaha mengikat makna dengan menuliskan di blog. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Materi pertama sebagai narasumber adalah ibu Runik Sri Arumdani yang merupakan Komandan Kapal Perang Pertama TNI Angkatan Laut. Sangat tidak biasa profesinya, namun ternyata sebagai seorang wanita bisa berprofesi sebagai apa saja saat kita bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Sehingga tidak ada yang tidak mungkin.

Langkah 1 : Diskusi Keluarga 
Meski diskusinya cuma sama adik perempuan dan ibu saya tapi tetap terasa bermakna menurut saya. Ketika pertanyaan yang muncul “Siapa perempuan Indonesia yang kami kagumi dan mengapa” Dari 1 pertanyaan ini ternyata memunculkan beberapa nama, namun akhirnya saya memilih Ibu Nurhayati Subakat sebagai perempuan yang saya kagumi. Beliau istimewa karena selain sebagai perempuan pintar, berpendidikan tinggi, bermanfaat untuk sesama juga karena brand yang beliau bangun adalah brand kosmetik pertama yang concern terhadap kehalalan. Sungguh sangat peduli dengan sesuatu yang thayyib karena pada saat itu beliau membangun brand belum terlalu banyak brand lainnya yang peduli terhadap hal tersebut. Nilai yang bisa kita contoh dari beliau adalah rejeki kita ada jatah rejeki untuk orang lain, seperti brand kosmetik yang dibangun beliau memberikan dana bantuan kepada almamaternya untuk beasiswa dan pengembangan riset. Selain itu juga saat Covid 19 melalui CSR-nya menyumbang milyaran untuk penanganan pandemi. Dari Ibu Nurhayati Subakat kita bisa belajar bersungguh-sungguhlah dalam bidangmu hingga kamu sukses dan berdampak. Setidaknya jika belum bisa berdampak untuk orang banyak, maka kita bisa bermanfaat untuk keluarga dan orang sekitar kita. 

Langkah 2 : Membuat Kolase / Pohon Keluarga Perempuan 



Diatas adalah Pohon Keluarga Perempuan milik Keluarga saya, dan memang mostly keluarga kami isinya perempuan. Disana ada ibu, tante, nenek, bahkan sepupu pun saya tuliskan karena memang sekeren itu mereka-mereka dimata saya. Setiap orang memiliki value dan dampak ke oranglain, baik keluarganya maupun masyarakat. Dan setelah saya cermati lagi ternyata memang mostly keluarga kami adalah ASN / bekerja diranah publik. Mungkin hal itu juga yg menjadi role model saya sedari kecil sehingga dalam alam bawah sadar saya pun tertanam jika perempuan harus berdaya dan bekerja. Meskipun diluar sana ibu-ibu yang bekerja diranah domestik pun juga tak kalah keren juga.
.
.
.
#Perempuan BerjatiDiri #KPI2025 #RefleksiJatiDiri

Kamis, 07 Juli 2022

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Ketujuh

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Pekan Ketujuh

Surat Untuk Mentor

Surat Untuk Mente 1

Surat Untuk Mente 2

Kupu-Kupu 

Evaluasi dari apa yang saya lakukan di program mentorship

Minggu, 12 Juni 2022

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Ketiga

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Pekan Ketiga


CERITA SEBAGAI MENTE
Masuk ke minggu ketiga program mentoring alhamdulillah sejauh ini masih sesuai dengan action plan.
Di minggu kemarin saya ingin membuat bank menu yang ramah anak, dan akhirnya saya buat di spreadsheet agar bisa terus diupdate secara berkala. Cuma yang ada disana itu masih semua menu yang kira-kira dimakan keluarga kami, karena kalo aneh-aneh saya gak tulis memang. Sudah saya konsultasikan ke mentor mbak dila, dan komen dari mbak dila untuk dipisah aja antara yg udah dicobain dan belum. Jadinya saya pisah itu di sheet 1 untuk yang semua menu, dan sheet 2 untuk yang udah dicobain aja.


Minggu ketiga ini di action plan saya membuat makanan utama homemade, sudah saya lakukan juga. Bahkan saya membuat skoring untuk setiap menu makanan. Contohnya seperti di bawah ini :
Saya lebih suka menuliskannya dibuku agar lebih memudahkan saya untuk melihatnya. Skoring ini saya lakukan untuk mengevaluasi tekstur, jenis makanan dan cara masak yang disukai oleh vanya.
Dari situ nanti menjadi acuan saya untuk berkreasi dengan menu-menu lainnya.

Skoring ini juga sudah saya konsultasikan ke mbak dila sbg mentor dan mbak dila gakpapa selama saya tidak kerepotan. Karena kan per jenis makanan ya skoringnya bukan per menu.

Nah, di sesi mentoring kali ini saya juga bertanya ttg menu apa yang sebaiknya saya berikan untuk menaikkan berat badan anak saya. Mbak dila menyarankan untuk membuat menu tinggi kalori. Dan inipun juga masih saya otak atik list nya agar kedepan udah ada panduan mau masak apa.

CERITA SEBAGAI MENTOR
Mbak Endri minggu ini mulai berbenah lemari, lemari pribadi dan juga lemari anak.
Masya Allah ternyata sudah mulai terlihat perubahannya. 
Saya hanya mendampingi mbak Endri dalam berbenah, memberi saran untuk cara menata dan juga peletakan bajunya agar rapinya lebih tahan lama.
Kalau melihat di action plan nya mbak endri sih sudah sesuai. Karena minggu kmrn berbenah dapur dan minggu ini berbenah baju sudah terlaksana.

Beda cerita dengan mbak Imas, beliau minggu ini berbenah dapur dan cukup bingung krn dapurnya kecil tapi barangnya banyak. Saya minta untuj dikeluarin per kategori aja biar lebih cepet dan mudah. 
Akhirnya beliau memulai dapur dengan lebih tenang krn sempet worry takut kepikiran banyak yang kdu dideclutter.

Sabtu, 04 Juni 2022

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Kedua

Tahap Kupu-Kupu : Jurnal Pekan Kedua

Minggu ini kami belajar membuat tujuan cekatan dalam jangka waktu pendek, menengah dan panjang. Goalnya memang terutama di jangka pendek, karena dalam mencapai tujuan ini kami akan didampingi oleh mentor. Berikut tujuan yang sudah saya tuliskan.

Untuk  kegiatan di pekan kedua ini saya membuat bank menu untuk makanan utama, bank menu ini akan selalu di update jika ada tambahan kreasi menu ato dapat ide dari manapun. Sementara yang sudah saya buat di minggu ini ada di https://docs.google.com/spreadsheets/d/1HWhuEbAvuMr1YIaVrS7tr-sBHsGdUDmz-zyRLF1AP0g/edit?usp=drivesdk .

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 6

Challenge 6 : Perempuan Indonesia – Penjaga Lokalitas, Pelaku Aksi Global   Langkah 1 : Mengenali Perempuan Inspiratif Saya membaca-ba...