Jumat, 11 Oktober 2019

Aldila_Task Lecture 3


Task 3 – Gemari Pratama Angkatan 2






Bismillahirohmanirrohim...
Minggu ini bahasan di kelas masih melanjutkan minggu lalu, tentang pilar-pilar gemar rapi. Pilar pertama sampai dengan keempat minggu kemarin masih ingat ndak? Masih donk, Dilakukan oleh pemilik barang (owner), penguatan mindset sebagai pondasi awal, perubahan kebiasaan sebagai tujuan dan pengurangan barang (declutter).  Etapi dari task minggu lalu ada sedikit catatan oleh mbak Indri, selaku fasilitator kelas saya untuk menambahkan kebiasaan baru (pilar ketiga) ke tabel jenis dan penyebab clutter. Saya tambahkan sekalian disini aja biar lebih detail untuk task kedua.

Clutter
Penyebab
Dampak
Kebiasaan Baru
Barang tidak terpakai diatas jendela
Suka menunpuk barang dan meletakkan tidak pada tempatnya
Terlihat kumuh
Menjadi sarang tikus/kecoa

Membuat alarm terhadap barang yang lama tidak digunakan
Storage tools yang penuh
Menyimpan barang yang sudah tidak bisa dipakai
Tools tidak punya tempat dan tercecer
Membuat identifikasi barang, yang tidak terpakai segera declutter
Box mainan yang menumpuk diatas rak
Tidak ada tempat menaruh box mainan
Kurang indah dipandang
Tidak aman kalau Echa memanjat untuk mengambil
Mencari tempat lain yang lebih aman, dan memberi identifikasi barang di dalam box
Beberapa kaleng kue diatas meja makan
Tidak segera dimakan/ dibuka tetapi tidak dimakan
Akan kadaluarsa jika tidak segera dimakan
Membuka kue/makanan satu persatu
Buku yang menumpuk dan tidak ditata sesuai kategori di rak
Terlalu banyak buku di rak
Rak buku tidak mampu menampung
Buku tidak bermanfaat secara maksimal
Membeli barang berdasarkan kebutuhan
mengembalikan barang ke tempatnya segera setelah digunakan
Boneka yang ditaruh sembarangan
Tidak ada rak boneka/tempat menaruh boneka
Boneka berdebu dan sumber penyakit
Rumah terlihat penuh dan berantakan
Mengembalikan barang ke tempat semula setelah digunakan
Tidak menunda-nunda mengerjakan pekerjaan rumah
Baju yang terlalu banyak menumpuk di lemari
Lemari yang terlalu besar sehingga tidak terasa
Kesulitan mengambil baju
Baju yang dipakai/dimanfaatkan tidak maksimal
Membeli barang berdasarkan kebutuhan
Baju bersih yang ditumpuk di kasur
Baju setelah dicuci/disetrika tidak segera dimasukkan lemari
Kesulitan saat mencari baju yang akan dipakai
Tidak menunda-nunda mengerjakan pekerjaan rumah
Alat masak dan perintilan dapur tidak tertata didalam kitchenset
Tidak ada pembagian space, peng-organise-an letak dalam kitchenset
Sulit untuk mencari barang yang akan dipakai
Tidak tahu kalau ada bahan makanan yang kadaluarsa/belum terpakai
Membuat identifikasi barang
Mengembalikan barang ke tempat semula setelah digunakan
Banyak barang di gudang atas yang tidak teridentifikasi
Semua barang yang sudah tidak dipakai/ sedang tidak dipakai diletakkan di gudang
Barang yang tidak dipakai menjadi rusak
Bisa menjadi sarang tikus dan kecoa
Konsumtif, karena berpotensi membeli barang lagi jika butuh. Padahal siapa tahu di gudang ada.
Membuat identifikasi barang yang ada digudang
Membuat alarm terhadap barang yang lama tidak digunakan
.
.  
4 pilar selanjutnya apa sih kira-kira, lumayan panjang penjelasannya karena mencakup banyak aspek. Ringkasannya bisa dilihat dibawah ini ya.


Kompleks kan 4 pilar yang kedua, karena ada hubungan dengan green and sustainable living juga. Wah, seneng banget dong ya karena satu tahun terakhir sedang mendalami dan belajar minim sampah juga urban farming. Ternyata gemar rapi juga sangat mendukung pelestarian lingkungan, belajar beberes tapi dampak lingkungannya juga ikutan dipelajari.
.
.
As always, peer nya gemari selalu butuh diskusi seluruh anggota keluarga. Dan kali ini karena pertanyaannya panjang, jadi gak langsung saya todong pas pillow talk. Saya WA dulu siang-siang kirim soal ke pak suami, dan jawabannya mayan agak nyeleneh. Malahan awalnya no. 5 gak mudeng maksudnya gimana. Yasudah, tetep aja mesti dijelasin dulu dan saya rangkum jawabannya kayak begini.
.
Pak suami pinginnya yang pertama dibenahi adalah ruang utama dan kamar tidur, kemudian taman depan dan gudang. Sebagian besar kegiatan di keluarga kami memang diruang  utama, mulai dari menonton tv, nemenin Echa mainan sampe makan di satu ruangan. Menurut suami saya, karena interaksi paling banyak disana jadi ruang utama harus pertama didahulukan agar senantiasa nyaman dirumah. Dan beliau juga nitip pesan, nanti kalau berbenah ditambahi tanaman hias aja didalam rumah untuk bersihin udara dan mengurangi radiasi. Baeklah pak, berkebun memang hobinya jadi tanaman indoor akan saya highlight untuk proses berbenah nanti. Kekunci jawabannya kalau suami itu emang type anak rumahan yang jarang kemana-mana bahkan sekedar ngopi diwarung kopi. Suami lebih milih bikin kopi sendiri dirumah sambil nonton bola atau bacain buku cerita Echa, bahkan kalau minggu pagi sering juga ngurusi tanaman dan burung lovebird peliharaannya. Dan dalam berbenah lebih mengutamakan kebersihan daripada kerapian apalagi yang tampak, berbenah dalam waktu-waktu tertentu dan cenderung besar-besaran, lebih memilih berbenah yang sesuai dengan hobi misalnya menggosok kamar mandi, menanam bunga, mencuci mobil.
.
Setelah mengidentifikasi berbagai macam clutter minggu kemarin, saya memilih membereskan kamar belakang lebih dahulu dan kemudian dapur dan gudang. Saya orangnya type visual, karena menurut penglihatan saya yang paling kelihatan berantakan itu di kamar belakang sehingga menjadi prioritas utama. Baju-baju dikasur, banyak baju di dalam lemari yang entah kapan terakhir dipakai, dan printilan lain seperti tas, kain-kain kenang-kenangan dan entah apalagi isi lemari atas. Ngeliatnya aja bikin saya sumpek, jadi mending ini aja yang didahulukan. Saya lebih mengutamakan kerapian, kurang suka berbenah yang berhubungan dengan air/tanah, berbenah secara berkala sesuai jadwal misalnya nyuci baju sminggu 2x, beres-beres seluruh rumah seminggu sekali.
.
Echa ndak saya wawancara seperti ayahnya, namun saya hanya mengobservasi  dari kesehariannya saja. Karena kebanyakan aktifitas Echa  di pojok belajar dan pojok baca dikamar, sepertinya pojok belajar yang ada diruang tamu yang akan jadi prioritasnya. Karena box diatas rak itu menjadi semacam hal menarik untuk Echa, namun saya belum punya tempat untuk menaruhnya. Dan juga Echa ini type anak yang kepo, ketika saya melarang maka malah akan dilakukan. Daripada dia manjatin sofa mw ambil isi box, lebih baik saya selamatkan duluan aja.

Echa dan rak mainannya

Kalau type berbenah ala Echa ya harus diingatkan berulang-ulang, misalnya untuk ambil 1 mainan balikin 1, mulai bertanggungjawab terhadap kebersihan diri (ngelap tumpahan air, buang sampah ditempatnya, abis pipis membasuh dan cuci tangan kaki)
.
Dari jawaban masing-masing keluarga saya tulis ulang ditabel ini a :


.
.
RASA adalah prinsip metode gemar rapi yang akan menjadi kunci pokok yang juga digunakan sebagai akronim prinsip Gemar Rapi. Rasa ini meliputi :



Sebuah rumah bila rapi saja tetapi tidak nyaman, tentu kurang menyenangkan untuk ditempati. Aman tetapi tidak bersih dan sehat juga kurang bersih. Rapi, bersih, aman, nyaman namun kurang ramah lingkungan juga nanggung. Sehingga Hygge (istilah Denmark)  bisa mewakili RASA tersebut. Hygge adalah perasaan yang menenangkan dan menyenangkan, tempat yang nyaman adalah tempat yang kita berada disana kita merasa jauh dari stress dan pikiran negatif.
.
Kriteria hygge setelah saya list dari hasil observasi dan wawancara dari anggota keluarga dalam rangka memahami definisi rasa nyaman dirumah antara lain (ini saya jadikan satu jawaban seluruh keluarga
ü  Bunda gak ngomel-ngomel (makjleb, ketauan kan kalo suka ngomel)
  ü  Dirumah bertiga sama Echa dan Bunda sambil baca buku/ ngemil pokoknya bareng-bareng
  ü  Banyak tanaman hijau dan suara burung
  ü  Kamar mandi bersih dan tidak licin
  ü  Semua barang berada ditempatnya masing-masing dan tersusun rapi
  ü  Makan masakan rumah bareng-bareng dimeja makan
  ü  Dibikinin mainan Bunda dan dibacain buku
  ü  Bisa tidur siang bareng-bareng

Intinya di keluarga kami hygge lebih dirasakan kalau kita bersama-sama dirumah, karena suami saya terutama merasakan kenyamanan jika kehidupan kita harmonis dan senantiasa dilakukan bareng apalagi kalau tanaman tambah banyak jadi tambah seger kan.
.
.
Pilar ketujuh, Memenuhi standart safety dan hygiene. Sek bentar, saya ceki-ceki dulu lingkungan rumah ya. Hmm...udah, hahaha. Rumah saya dari awal saya hamil disetting untuk menjadi rumah ramah anak,  dan juga prepared environment montessori. Jadi memperhatikan aspek safety, namun tidak melupakan kemudahan akses anak-anak biar Echa bisa mandiri. Saya list aja deh sejauh mana kehidupan sehari-hari kami terkoneksi dengan prinsip safety & hygiene :

Aman / safety ini lebih ke keselamatan penghuni, baik dari faktor eksternal maupun dari faktor internal (keridaksengajaan)
  Ø  Tidak ada stop kontak dibawah (bisa diakses anak)
  Ø  Membiasakan mencabut peralatan elektronik yang tidak dipakai
Stop kontak terletak tinggi, jauh dari jangkauan anak

  Ø  Tempat tidur dibawah (tidak menggunakan ranjang yang tinggi)
  Ø  Menggunakan kunci ganda untuk pintu rumah dan gembok untuk pintu pagar
  Ø  Tabung gas didalam kitchen kabinet dan diberi lubang ventilasi
  Ø  Lantai dapur diberi rug agar tidak licin terkena cipratan minyak
  Ø  Atas dapur dibuat tinggi dan terdapat lubang ventilasi agar tidak panas dan bertekanan tinggi

Sehat / higienis itu sebisa mungkin steril dari kuman dan sumber penyakit. Sehingga bersihnya bukan cuma dari yang kelihatan mata saja namun juga yang tidak kasat mata.

  Ø  Menyapu lantai setiap hari, mengepel lantai 2 hari sekali dan mengganti sprei seminggu sekali
  Ø  Membuka semua jendela dan pintu di pagi hari
  Ø  Menanam tanaman di halaman rumah untuk supply oksigen dan tanaman indoor yang mengurangi efek radiasi
Indoor Plant Pembersih Udara dan Anti Radiasi

  Ø  Menggunakan bahan-bahan alami untuk bersih-bersih (ecoenzym untuk mengepel dan mencuci piring, floor cleaner organik untuk membersihkan meja dapur)
Ecoenzym untuk cuci piring dan ngepel lantai

Floor Cleaner Waterbase

    Ø  Mempunyai tempat sampah terpilah, sampah organik langsung masuk komposter, sampah anorganik disetor ke bank sampah, sampah yang tidak bisa didaur ulang ke TPA
  Ø  Membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan, cuci tangan dan kaki setiap pulang dari luar rumah
  Ø  Menggunakan essential oil sebagai pengobatan alami saat keluarga sakit ringan

Secara garis besar keluarga kami sudah terkoneksi dengan prinsip safety dan higienis mungkin 70%, karena masih ada beberapa produk sehari-hari yang masih menggunakan bahan kimia seperti sabun mandi, shampo, pencuci baju dan skincare. Kalau safety juga sebisa mungkin sudah kami perhatikan, sisanya mungkin akses ke gudang atas kamar mandi yang masih menggunakan tangga manual karena keterbatasan space dapur sehingga kami tidak memungkinkan untuk membuat tangga permanen.
.
.
Nomer 8 ini malah ngerjainnya paling duluan, haha...karena paling gampang menurut saya. Alhamdulillah setahun ini mulai belajar minim sampah dan hidup lebih ramah lingkungan. Jadi langsung saya jawab aja yaa


-          REFUSE / HINDARI
Dengan membawa dan memakai zerowaste kit kemanapun pergi, sangat berguna untuk mengindari sampah/clutter yang masuk kerumah. Mulai dari membawa kantong belanja sendiri dan grocery ecobags daripada menumpuk kresek dirumah, alat makan, sedotan stainless dan container box ketika takeaway/ makan diluar dan memakai menspad sebagai salah satu solusi dari banyaknya sampah pembalut sekali pakai.
Belanja dengan membawa tas belanja sendiri











Belanja ke pasar membawa box dan kantong belanja 

-          REDUSE / KURANGI
Di keluarga kami, belum bisa 100% bebas sampah sehingga mengurangi masuknya sampah kedalam rumah bisa diusahakan dengan membeli barang kebutuhan sehari-hari dalam kemasan besar. Misalnya daripada membeli minyak goreng 1 literan, saya memilih yang wadah jurigen 5 liter nanti bisa dishare dengan tetangga karena beli banyak harganya jelas lebih murah. Begitu juga dengan beras, beli 25 kg saat promo dan disharing dengan tetangga. Jadi sampah beberapa kantong, jadi cuma 1 kantong aja.
Echa semenjak disapih juga sudah tidak minum sufor menggunakan dot, saya lebih memilih susu UHT yang gizinya masih terjaga daripada susu terfortifikasi. Namun, tetrapack susu UHT ini sering jadi masalah karena tidak semua Bank Sampah menerima kemasan berlapis begini. Sehingga akhirnya saya beli UHT kemasan 1 liter, dan dimasukkan ke botol kaca asi untuk sekali minum (biasanya 100-200 ml). Meskipun masih menggunakan tetrapack, namun tidak sebanyak yang kemasan kecil.

-          REUSE / PAKAI BERKALI-KALI
Hampir sebagian besar barang-barang dirumah yang saya beli itu yang longlasting dan bisa dipakai berkali-kali. Mulai dari baju, sepatu tas yang lebih milih berkualitas sehingga bisa dipake lama (tas kerja dipakai 3th baru ganti) , peralatan didapur seperti piring, sendok, gelas, panci dll yang kebanyakan kado pas nikah dan dipakai sampai sekarang. Apalagi kalo kerja saya dan suami kan ngebekal...bawa luncbox sendiri sehingga gak menghasilkan sampah sterofoam atau kertas minyak.
Membawa bekal kekantor dengan Luncbox

-          UPCYCLE / BENTUK KEMBALI
Harusnya R yang keempat ini Recycle, kalau recycle kan biasa dilakukan oleh industri secara besar-besaran dan prosesnya dengan meleburkan kembali barang (mencacah atau dengan panas) nah kalau dalam skala rumah tangga lebih enak dengan istilah Upcycle karena akan memberikan nilai tambah pada sampah (hasil diskusi di grup). Upcycle yang sudah dilakukan dirumah sepertinya ada 2 jenis, ini juga salah satu ikhtiar kami sekeluarga dalam mengolah sampah yang sudah terlanjur masuk kedalam rumah. Yaitu membuat ecoenzym dan ecobricks, ecoenzym adalah semacam all purpose liquid yang bisa digunakan untuk cairan pembersih serta pupuk. Proses pembuatannya sangat mudah karena berasal dari sampah kulit jeruk ditambah gula aren dan air yang difermentasikan selama 3bulan.
Ecoenzym sebagai all purpose cleaner dari kulit jeruk

Ecobricks adalah salah satu solusi untuk memanfaatkan sampah plastik yang terlanjur masuk kedalam rumah, karena saya masih menggunakan banyak barang pabrikan yang dijual di supermarket. Sehingga untuk mengkandangkan plastik-plastik itu saya bikin ecobricks dengan botol air mineral 1500 ml yang diisi minimal 500 gr dengan cara dipotong kecil-kecil dan dipadatkan.
Ecobricks bisa dimanfaatkan untuk furniture/pengganti batu bata


-          REHOME / DONASI
Dari hasil memilah sampah yang ada dirumah ada beberapa sampah anorganik yang bisa didaur ulang kembali, yaitu plastik botol-botol , kertas/kardus dan logam2. Sampah-sampah ini  yang saya salurkan ke bank sampah atau pak rombeng yang lewat didepan rumah agar bisa dimanfaatkan lagi daripada hanya berpindah ke TPA.
Memilah sampah untuk disetorkan ke Bank Sampah

Selain sampah, barang-barang layak pakai yang sudah lama tidak terpakai semisal baju-baju, jilbab, sandal dan buku juga saya salurkan. Biasanya saya tawarkan ke ART ibuk di Nganjuk, atau saya sumbangkan untuk bazar amal. Mungkin bagi kami sudah tidak bermanfaat, namun untuk oranglain sangat dibutuhkan daripada hanya teronggok menjadi clutter mending didonasikan untuk orang lain.

-          REPURPOSE / ALIH FUNGSI
Semenjak mulai beralih ke hidup minim sampah, keluarga kami sudah berdiet tissue dan menggantinya dengan lap kain. Ada beberapa handuk Echa pas bayi yang masih bisa digunakan, namun kebanyakan saya membuat sendiri dari kaos pendek jaman pernah langsing (eeakk) yang dipotong seukuran saputangan dan dinecikan ke tukang jahit agar pinggirannya rapi. Sedangkan untuk baju bekas yang sudah tidak layak pakai, saya potong ukuran besar untuk dimanfaatkan menjadi lap dapur.
Selain baju bekas, toples plastik dan kardus sepatu juga dapat dimanfaatkan kembali, biasanya kardus sepatu saya lapisi dengan kertas kado warna-warni dulu dan setelahnya digunakan untuk tempat perintilan diy mainan Echa.

-          REPLANT / TANAM KEMBALI
Tanam menanam yang merupakan hobi suami, seringkali saya repotin juga untuk bantu menanam tanaman pangan gak cuma tanaman hias aja biar sedikit-sedikit ndak beli. Kami memang tertarik dalam urban farming, tapi masih sebatas mencoba menanam yang mudah-mudah saja. Sejauh ini yang berhasil baru cabe, tomat, seledri dan daun mint yang nanemnya juga dari biji/potongan batanganya. Pernah juga replant bawang pre digelas dan diberi air, beberapa hari masih segar sih namun bau airnya itu kayak bau busuk. Akhirnya saya tanam ditanah dan malah mati.
Tomat dan cabe yang ditanam dari biji

-          ROT / KEMBALI UNTUK BUMI
Mengkompos merupakan salah satu solusi untuk mengolah sisa sampah organik, saya membuat komposter ember didepan rumah dan diisi sampah organik nabati. Yang hewani buat jatahnya kucing tetangga aja, karena takut kalau dimasukkan ke komposter nanti jadi bau.
Sejauh ini alhamdulillah berhasil ya komposnya, sampah organik berhasil terurai dgn baik dan sudah pernah 2x panen untuk menjadi pupuk tanaman di halaman depan rumah.
Komposter sampah organik nabati

Kira-kira yang sudah dilakukan oleh keluarga kami agar hidup tidak mencemari lingkungan bisa saya rangkum seperti tabel dibawah :
.
.
Sekian 8 pilar Gemar Rapi sudah terbhas semua, alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai menguatkan strong why harus mulai berbenah. Apalagi metode gemar rapi paling komplit dari segala aspek dan cocok untuk budaya masyarakat Indonesia. Wahh...can’t wait untuk materi minggu depan nih, pastinya makin seru dari minggu ke minggu.
.
.
.
cue_dil
111019
Tugas kali ini kebanyakan bikin bagan, jadi ngerjainnya mayan lama

#Task3GP
#gemaripratama
#angkatan2
#GP2kelas2
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#berbenahalaIndonesia
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu


Sumber Bacaan :
_Materi Pilar-Pilar Gemar Rapi (Bagian 2), Gemar Rapi, 2019_
_Materi Suplemen, Green & Sustainable Living, 2019_
_Foto-foto dokumentasi pribadi, 2019_

Kamis, 03 Oktober 2019

Aldila_Task Lecture 2

Task 2 - Gemari Pratama Angkatan 2





Bismillahirrohmanirrohim...

Masuk minggu kedua dan rasa-rasanya materi tambah nampol aja nih, ndak usah keburu gemes eksekusi kalau ilmu basicnya belum dapet dan belum paham. Segala sesuatu tanpa ilmu kan nonsense ya, hasilnya gak akan maksimal. Di minggu ini, kelas Gemari Pratama belajar tentang pilar – pilar Gemar Rapi. What is Pilar ? Menurut Kamus Besar Bahasan Indonesia pilar adalah tiang penguat (dari batu,beton dan sebagainya) ; dasar (yang pokok) . 
Jadi Pilar Gemar Rapi itu sendiri merupakan penyangga/penunjang agar dapat merealisasikan metode ini secara menyeluruh. Ada 8 pilar dalam Gemar Rapi, namun lecture kedua ini kita baru mempelajari 4, dan 4 sisanya minggu depan ya (sabar, belajar pelan-pelan).
.



Penjelasannya gimana nih ? Eitt, mohon maaf ikut kelas Gemari aja biar tau lebih detail. Hahaha...Atau kepoin IG nya @gemarrapi biar dapet info-info terbaru.
.
Seperti biasa, agenda pillow talk bersama suami sebelum tidur membahas berbagai macam kejadian di hari itu. Termasuk tumbuh kembang Echa dan juga pelajaran-pelajaran yang saya dapat di kelas online. Sekalian deh jadi ajang wawancara pak suami untuk task 2 gemar rapi ini, setelah minggu kemarin tak ajak diskusi terkait clutter dirumah minggu ini waktunya saya pidato dulu apa aja pilar gemar rapi . Pas saya cerita kalau bebenah itu mesti dilakukan sama yang punya barang, pak suami setuju banget. Ya iyalah setuju, orang saya aja dilarang beresin perkakasnya doi, katanya nanti tak beresin sendiri. Karena ya emang yang tau barang itu masih perlu/masih dipakai/masih berfungsi orang yang punya barang, bukan kayak eke yang ngeliat tok asal mengambil kesimpulan sendiri. Pak suami juga pesan kalo saya jangan anget-angetan, mesti tetap istiqomah belajar dan ngingetin beliau. Karena demi mencapai goal keluarga kita di tahun depan untuk minimalist lifestyle, saya ini khususnya harus banyak membuat planning dan program.
Keesokannya ganti nanya ke Echa, toodler Bunda ini udah lancar banget diajak ngobrol makanya saya sering nanyain pendapat dia dalam berbagai bahasan. Kira-kira gini percakapan saya dengan Echa,
B : Echa, mainan yang diatas rak diberesin Bunda ya ? Dimasukin ke box dikamar
E : Jangaaaaaann
B : La kenapa ? Kan biar rapi loh
E : Itu punya Echaaa
B : Trus kalo punya Echa yang beresin siapa ?
E : Echaaa
B : Oke, jadi nanti diberesin ya..dibantuin bunda
Ketangkep kan point nya, jadi karena mainan itu barangnya Echa berarti yang beresin juga Echa. Sama kayak pilar pertama Gemar Rapi, beberes dilakukan pemilik barang. Prinsip ini sama dengan workshop montessori yang pernah saya ikuti, kalau apapun mainan/apparatus yang akan kita ganti/ bereskan harus seijin anak. Karena jangan sampai anak merasa tidak dilibatkan dalam menentukan pilihan, hal ini akan mencederai hati anak apalagi pilihan yang menyangkut diri mereka.
.
Suami dan saya sudah punya semacam peraturan tidak tertulis, kalau weekend itu untuk keluarga khususnya Minggu (Sabtu suami masih masuk kerja). Jadi dalam sebulan, Minggu-minggu ini pasti sudah ada planningnya masing-masing, entah jadwal family outing, pulang kampung atau bersih-bersih rumah plus farming. Nah, waktu beberes inilah yang biasanya dimanfaatkan jadi bersih-bersih besar serumah, memilah barang yang masih dipakai atau sudah tidak terpakai, dan menyumbangkan barang yang masih layak pakai. Semisal, kedepannya suami sedang sibuk atau tidak minat berbenah saya mesti ngapain ???
Sejujurnya belum pernah seperti ini, karena family program di keluarga kami ya harus dilakukan bersama-sama. Kalau memang belum bisa minggu pagi, jadwalnya biasanya bergeser ke minggu siang atau sore. Tapi kalo misal nih, misalnya jadwal yang disepakati ternyata tidak bisa dilaksanakan oleh semua anggota keluarga, ya berarti saya yang harus berkorban lebih dengan :
-            Membuat skala prioritas berbenah
Kalau berbenah sendiri dan orang serumah kan jelas beda ya, kalo orang banyak bisa cepet meskipun mau beresin serumah. Nah, kalau sendiri atau sama Echa(siapin stock sabar) berarti perlu bikin skala prioritas, mana yang kira-kira paling clutter dan duluan harus diberesin. Misalnya kayaknya lemari kamar belakang (yang gede itu) yang paling clutter berarti saya fokus beresin baju-baju dulu aja. Ndak perlu idealis harus serumah-rumah diberesin smua pada hari itu, takutnya nanti kita capek badan capek hati malah bikin emosi. Pelan-pelan yang penting ada progres.
-            Mengelompokkan barang yang teridentifikasi clutter ke masing-masing pemilik barang
Saya ambil contoh lemari kamar belakang aja ya, dari baju sekian banyak kan pasti kita tau mana yang sering dipakai mana yang jarang dipakai bahkan belum pernah dipakai sehingga menjadi clutter. Baju-baju ini kita kelompokkan ke masing-masing pemilik barang, baju saya dan baju suami.
-            Mengklarifikasi ke pemilik barang
Setelah dipilah, untuk baju saya akan saya putuskan sendiri. Nah baju suami mesti saya klarifikasi dulu ke orangnya, beneran ini masih dipakai atau enggak. Kalau pemiliknya sudah konfirm, baru kita bisa mengambil sikap. Tidak boleh seenaknya membuang barang yang bukan milik kita.
-            Membersihkan dan menata kembali
Yang terakhir, setelah didapatkan hasilnya baru kita bersihkan dan ditata lagi sesuai tempatnya. Kalau ada baju yang jadi clutter bisa disikapi tindakan selanjutnya, entah dikasihkan orang lain atau di-reuse untuk jadi lap dapur atau bahkan keset.
.
Next pilar kedua adalah penguatan mindset sebagai pondasi awal, untuk pertanyaan nomor 2 ini sengaja memang saya gak bertanya ke Echa, karena agak repot nanti jelasin 4 pilar pake bahasa anak-anak. Jawaban ini pure murni diskusi antara saya dan suami. Ada beberapa point yang perlu saya highlight terkait korelasi mindset baru dengan mindset lama di keluarga kami :
          Mindset baru : declutter dilakukan oleh pemilik barang
Mindset lama : declutter dilakukan bersama-sama atas seijin pemilik barang
Hampir mirip sih ya mindsetnya, karena program berbenah di keluarga kami yang saya ceritakan tadi. Berbenah selalu dilakukan bersama-sama, kalaupun mau men-declutter barang harus seijin yang punya. Karena kami menghargai otoritas masing-masing orang akan kepemilikan barang masing-masing.
          Mindset baru : penguatan mindset sebagai pondasi awal
Mindset lama : kebiasaan hanya dilakukan tanpa adanya mindset yang kuat
Ibaratnya mindset adalah sebagai pondasi, sedangkan habit/kebiasaan adalah tiang penyangganya. Sehingga apabila habit yang dilakukan setiap hari tanpa didasari mindset yang kuat, seperti yang selama ini saya lakukan dan berakibat lelah jiwa raga. Gimana gak lelah, habit saya suka bersih dan rapih, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Namun, mindsetnya masih membeli barang sesuai dengan keinginan bukan karena kebutuhan. Ini sama saya dengan menumpuk clutter dan tidak akan tuntas beberesnya.
          Mindset baru : perubahan kebiasaan sebagai tujuan
Mindset lama : rumah bersih dan terlihat rapi sebagai tujuan
Yah selama ini tujuan saya berbenah memang hanya sebatas agar rumah selalu terlihat rapih dan bersih agar keluarga nyaman tinggal didalamnya. Padahal jauh dari itu, tujuan yang sebenarnya dari gemar rapi ini adalah adanya perubahan mindset, gaya hidup dan kebiasan yang lebih baik.
          Mindset baru : Pengurangan barang (declutter)
Mindset lama : Menata barang, sehingga clutter tidak hilang hanya bertumpuk
Ini nih yang jadi penyakit kebanyakan orang, berbenah hanya sekedar merapikan barang (atau bahkan menumpuk). Sayapun begitu, sudah kebiasaan dari kecil tidak suka ada barang yang berserakan atau tidak enak dipandang mata sehingga semua barang harus ada rumahnya. Namun, seperti yang saya jelaskan di task 1 kalau ternyata saya hanya menyimpan banyak clutter. Padahal sesungguhnya gemar rapi itu mengurangi barang yang manfaatnya sudah tidak maksimal atau bahkan tidak ada. Sehingga kita hidup dalam kecukupan dan penuh syukur.


.
Pilar ketiga adalah tentang perubahan kebiasaan sebagai tujuan, insya Allah setelah mendapat ilmu dari gemar rapi akan ada beberapa perubahan kebiasaan di keluarga kami yaitu :
          Membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan apalagi hanya karena godaan promo
Selama ini saya sering lapar mata (maafkan), terutama kalau lagi buka IG ngeliat olshop jual baju bagus bagus. Beli dengan alasan buat kerja hari jumat, karena hari jumat kalau kerja bajunya bebas sedangkan di lemari isinya gamis (kerja gak boleh pake rok). Semoga bisa memperbaiki mindset agar berpikir 1000 kali sebelum memutuskan membeli barang. Dan juga sudah uninstal beberapa e-commerce biar gak tergoda diskon promo atau diskon ongkir, hahaha...
          Mengembalikan barang ke tempatnya segera setelah digunakan
Kalau saya sih insyallah sudah disiplin ya ini, Echa juga sudah saya disiplinkan dengan kebiasaan ambil 1 balikin 1. Ini berlaku untuk mainan yang didisplay maupun buku, jadi misal dia ingin baca buku lain harus balikin dulu buku yang sebelumnya dibaca.
Tapi beda sama bapaknya, yang suka sembarangan naruh-naruh barang. Baju habis dipakai digantung belakang pintu, ditaruh diatas kasur kamar belakang. Kopi habis diminum gelasnya ndak ditaruh cucian priring dan lain-lain. Mesti sounding pelan-pelan dan pake bahasa cinta sih kalo sama bapaknya ;p        
          Tidak menunda-nunda mengerjakan pekerjaan rumah
Semakin kita menunda pekerjaan, semakin banyak pekerjaan yang akan menumpuk, begitulah kira-kira. Udah sering kejadian sih kayak naruh piring kotor di sink berujung cucian banyak jadi makan waktu, setrikaan yang gak dimasukin lemari bikin kesusahan pas nyari baju dan abis belanja gak ndang dimasukkin kotak-kotak sehingga sayuran jadi layu. Jadi mulai sekarang harus semangat untuk segera berangkat melakukan pekerjaan rumah yang ada, no tunda-tunda no males-malesan.
       Memaksimalkan penggunaan barang, membuat alarm terhadap barang yang lama tidak digunakan
Ini nih yang sering kejadian di suami, bilang masih dipake-dipake tapi kenyataannya ya teronggok aja di gudang atau pojokan. Mulai sekarang harus dibikin alarm umur pakai, misal baju yang udah 3bulan gak dipakai berarti perlu dideclutter, atau magicom lama yang udah ndak dipake bisa dikasihkan ke orang lain atau preloved (karena kondisinya masih bagus). Intinya jangan biarkan barang lama-lama tidak bermanfaat.
          Membuat identifikasi barang yang ada digudang
Gudang atas yang isinya apa aja bahkan saya ndak tau, seringkali jadi penyebab kami lebih boros. Pernah nih pas mau agustusan, waktunya masang lampu kelap kelip kan..eh pas nyari digudang atas gak nemu bapaknya karena lupa ditaruh mana. Pas kapan hari nyari pompa air lama, malah ketemu itu lampunya. Jadi kami harus menata ulang gudang, mendeclutter barang yang sudah tidak bermanfaat dan menyimpan dengan identifikasi barang yang masih akan digunakan kembali. Kayak pompa asi, baju bayi, botol-botol asi karena masih kepingin punya anak lagi sebaiknya disimpan dalam 1 kardus dan ditulisi isinya, selain itu juga saya harus punya buku khusus untuk mencatat barang yang ada di gudang.
.
Pengurangan barang dengan indikator lagoom, lagoom sendiri berasal dari bahasa Swedia yang artinya tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak. Sehingga : cukup, pas, tepat.  Kondisi lagoom untuk setiap orang itu tidaklah sama, karena mindset dan kepuasan setiap orang berbeda-beda sesuai versinya masing-masing. Menurut saya lagoom ini sangat dalam, bahkan bisa sampai mempengaruhi gaya hidup sehingga kita bisa membedakan antara mana kebutuhan dan mana keinginan. Dan lagoom sendiri merupakan suatu kecukupan, berarti kita tidak kekurangan maupun berlebihan sehingga bisa senantiasa bersyukur akan nikmat yang kita miliki karena kita tidak membandingkan hidup kita dengan melihat indikator hidup oranglain namun lebih melihat kedalam hidup kita sendiri sesuai dengan mindset dan hati kita (yang bisa mengukurnya). Misalnya, dirumah oranglain memiliki 1 gunting itu cukup untuk segala keperluan, tidak dirumah saya karena gunting memiliki fungsi masing-masing untuk menggunting kertas, gunting dapur, gunting rumput jadi cukupnya 3. Beda lagi misal dirumah ada 3 panci, yaitu untuk mengukus, untuk masak harian kecil dan untuk masak yang agak banyak (mealprep mingguan) ini cukup menurut saya. Dirumah oranglain cukupnya 1 aja untuk segala keperluan. Karena indikator kecukupan setiap orang itu berbeda.

Indikator yang bisa kita gunakan dalam declutter dengan prinsip lagoom itu sendiri  simple dan sederhana baik dalam memiliki sesuatu maupun bertindak. Jadi pemilik barang menilai dengan jujur kepada diri sendiri mengapa memilih barang itu, apakah barang yang dimiliki masih memiliki fungsi maksimal atau tidak berfungsi dan bermanfaat. Ataukah barang-barang itu masih disukai, dan membuat nyaman sehingga masih dipergunakan. Kesemuanya ini akan menjadikan habbit dalam kita declutter, sehingga declutter akan terasa mudah dan menyenangkan.
.
Fiuhhh...akhirnya selesai task 2 yang lumayan panjang ini, agak-agak bikin pusing kelamaan ngetik didepan komputer karena saya ngerjain sambil disambi kerja. Intinya setelah Lecture 2 ini jadi semakin membuka pikiran, growth mindset saya bahwa gemar rapi tidak sesulit yang dibayangkan.
.
.
.
cue_dil
03102019
Selesai tepat sebelum magrib, alhamdulillah

#Task2GP
#gemaripratama2
#angkatan2
#GP2kelas2
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#berbenahalaIndonesia
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu


Sumber Bacaan :
_Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, Balai Pustaka, jakarta, 2008_
_Materi Pilar-Pilar Gemar Rapi (Bagian 1), Gemar Rapi, 2019_
_Materi Suplemen Lagom, Gemar Rapi, 2019_


Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 6

Challenge 6 : Perempuan Indonesia – Penjaga Lokalitas, Pelaku Aksi Global   Langkah 1 : Mengenali Perempuan Inspiratif Saya membaca-ba...