Jumat, 15 November 2019

Aldila_Task Lecture 8

Klaster 1 - Dapur Part 1

   
Saya suka dengan materi minggu ini, dapur...hihihi. Tempat nongkrong ibu-ibu disetiap rumah dan tempat menuangkan cinta seorang ibu menjadi sepiring makanan.  Gimana kalau dapur kita berantakan dan bikin gak betah? Apa iya akan tercipta makanan lezat yang menggugah citarasa keluarga? Jawabannya tentu tidak ya, boro-boro mau masak ngeliat dapur aja rasanya senewen ato sumpek mungkin ya. Hahaha...
.

Thats why  saat dulu saya mulai merancang interior rumah, dapur merupakan prioritas pertama buat saya. Belum punya sofa, meja makan, bahkan ranjang tempat tidur saya memilih nabung untuk bikin kitchenset. Karena space untuk dapur di dapur rumah kami yang perumahan ini mayan sempit ya, Cuma 3 x 2 meter sehingga harus pinter ngakali dan design agar tidak penuh barang dan sumpek. Sayapun nyebut dapur dirumah sebagai “dapur senggol”, karena bener-bener Cuma cukup untuk 1 orang kalo ada 2 orang didapur bisa senggol-senggolan.
.



Area dapur dirumah juga sebagai area cuci, karena mesin cuci saya letakkan disebelah sink cuci piring. Tapi jemurnya didepan rumah, monmaap rumah kami RSSSSS jadi yaudah lah memanfaatkan lahan secara maksimal. Selain mesin cuci, didapur kami ada kitchenset, kulkas dan meja untuk naruh magicom dll. For details, lets check this out :

Proses Decluttering

Peralatan didapur saya sebenarnya tidak terlalu banyak, karena selain dapurnya senggol juga saya ndak hobi koleksi peralatan masak. Malah kebanyakan barang didapur adalah warisan dari ibuk, seperti wajan, panci, piring, sendok dll. Namun, dari masing-masing kategori saya membuat beberapa sub kategori.



Peralatan Makan :
Untuk peralatan makan saya bagi jadi 4, yaitu peralatan makan untuk Echa yang ditaruh didalam dishdryer diatas meja yang isinya piring mangkuk melamin dan plastik serta gelas botol plastik yang kegunaannya memang untuk Echa. Peralatan makan dari keramik dan kaca untuk sehari-hari di kabinet bawah kompor terdiri dari piring, mangkuk, mug yang terbuat dari kaca/keramik. Peralatan makan yang jarang dipakai atau hanya dipakai saat ada tamu ditaruh di rak piring kabinet atas, sepertinya ada selusin piring, beberapa gelas kaca dan teko plastik serta gelas plastik. Dan yang terakhir lunchbox dan container box untuk membawa bekal serta food preparation mingguan saya taruh di 2 tempat, yaitu kabinet atas dan bawah meja (karena gak cukup).
Peralatan Memasak :
Dibagi jadi 2 saja, yang dipakai sehari-hari saya gantung diatas mesin cuci seperti frypan kecil dan besar, panci kecil, panci masak air dan wok pan. Dan peralatan masak yang jarang dipakai seperti kukusan besar dan panci suki dimasukkan kedalam kabinet.



Bahan Makanan :
Sub kategori untuk bahan makanan lumayan banyak, ada bahan makanan basah di kulkas yang isinya kebanyakan foodprep mingguan trus bumbu-bumbu basah, kemudian ada bumbu-bumbuan botol macam kecap, saos, saos tiram, minyak wijen dll, stok bahan makanan juga di kitchen kabinet atas yang isinya hasil belanja bulanan, bahan makanan kering di toples kayak tepung-tepungan, oat, kacang hijau, kopi, gula dan bumbu dapur di laci serta meja dapur yang digunakan masak sehari-hari seperti garam, kaldu jamur, merica, kemiri, kunyit bubuk, oregano, parsley. Lumayan tersebar tempatnya karena saya menyesuaikan tempat, nyari celah-celah untuk naruh biar tidak terlihat penuh.
Peralatan kebersihan :



Serbet yang bersih saya taruh dikotak bawah meja, lap tangan digantung dan yang bersih ada di box campur handuk dll, keset/rug dilantai  dan sabun cuci diletakkan didekat sink mesin cuci. Untuk bahan2 pembersih lainnya seperti pembersih serbaguna, obat pel  saya taruh didean kamar mandi bersama dengan toilettries lainnya.
Peralatan Elektronik :
Di dapur kami hanya ada kulkas, magicom, blender. Saya belum bisa baking, jadi memang belum butuh beli oven/microwave. Kalaupun kepingin bikin kue saya pilih pake magicom, karena magicom dirumah kami digital sehingga bisa untuk berbagai macam keperluan. Sengaja memang beli yang digital, karena bisa digunakan untuk masak nasi, bubur, sup/kaldu, nasi merah, serta bikin kue.

Peralatan Makan
Alat makan Echa
Mangkok, piring, gelas melamin dan plastik

Alat makan sehari-hari
Mangkok piring gelas keramik dan kaca

Alat makan acara/tamu
Piring, gelas kaca & plastik

Lunchbox & Container box

Peralatan Memasak
Alat masak sehari-hari
Panci, frypan, wok pan

Alat masak jarang dipakai
Kukusan, suki bowl
Bahan Makanan
Bahan makanan basah
Sayur, buah, telur, bumbu dasar, syrup

Bumbu-bumbuan botol
Saus, kecap, minyak wijen, saus tiram

Bumbu-bumbuan kering
Garam, merica, kemiri, oregano, parsley

Bahan makanan kering
Tepung, oat, kacang ijo, kopi, teh

Stok bahan makanan
Mie, spageti, coklat, keju,
Peralatan Kebersihan
Kain
Lap, kanebo, keset/rug

Bahan pembersih
Sabun cuci piring, ecoenzym, obat pel
Peralatan Elektronik
Sehari hari
Magicom, kulkas

Jarang dipakai
Blender

Kenapa saya bikin sub kategori ? Karena untuk memudahkan saya dalam menyimpan dan mengambil barang-barang soalnya kan udah ditata per kategori, ndak ada tuh acara kunyit dimana, gula dimana, kopi dimana apalagi kena ayahe Echa bisa tiap hari tanya terus. Dan juga agar lebih aman dan nyaman seperti alat makan Echa yang tidak dicampur dengan alat makan lainnya, dia bisa lebih mandiri karena alat makannya terjangkau dan aman gak kecampur sama piring-piring kaca.
.

Keluarga kami diutamakan makan-makanan rumah, setiap pagi saya memasak untuk sarapan dan bekal makan siang saya dan suami. Serta misahin sayur dan lauk untuk Echa makan 3x sehari. Makan pagi dan malam saya skip, sengaja kok karena lagi diet :p Suami kalau malam seringnya makan dikantor karena lembur atau beli makan didepan perumahan. Saya terbiasa foodprep sejak hampir 2th yang lalu, jadi pada saat weekend belanja berbagai sayur dan protein hewani lalu dipisah per sekali masak. Lebih hemat dan lebih cepat saat memasak, selain itu juga selalu sedia bumbu dasar putih dan merah sehingga ndak perlu ngupas bawang setiap hari.
Barang-barang didapur kami rasanya sudah cukup, kalau dianggap terlalu berlebihan sih enggak ya cuma ada beberapa barang yang double seperti teflon kecil, frypan dan beberapa gelas/botol hadiah. Saya memang membatasi belanja perintilan dapur dan memilih menggunakan apa yang dimiliki, karena takut kalau kitchensetnya ndak muat trs bikin dapur jadi sumpek.
Barang-barang di dapur kami yang sering digunakan adalah alat masak yang digantung seperti panci kecil, teflon kecil untuk goreng-goreng, frypan untuk tumis-tumis, panci untuk masak air dan kukusan sedang kadang-kadang, peralatan makan sehari-hari seperti piring, mangkok, gelas juga sering digunakan. Kalau barang yang tidak pernah digunakan rasanya gak ada sih, semua pernah dipakai eh paling hadiah-hadiah souvenir gitu yang masih plastikan. Namun, dalam 3 bulan ini yang belum pernah digunakan adalah wajan sedang dan kukusan besar. Wajan sedang bikin boros minyak, sedangkan saya sangat batasi penggunaan minyak jadi milih goreng pake teflon kecil dengan sedikit minyak. Kukusan dulu jaman mpasi Echa sangat berguna dan setiap hari dipakai, tapi sekarang jarang banget sih. Hehehe...
.

Its time to Decluttering...lalala. Sejujurnya waktu berbenah dapur realitanya tidak sama dengan schedule yang saya buat. Di schedule dimulai dari kamis minggu lalu, senin dan selasa, kenyataannya minggu kemarin saya keluar kota dan baru mulai hari rabu malam karena senin selasa udah capek pulang kantor. Dan kamis dilanjutin alhamdulillah selesai tapi masih menyisakan PR kantong kresek seplastik yg smoga bisa dbkin ecobrick, weekend ini niatnya bersihin kulkas untuk materi dapur part 2 minggu depan.
Padahal dapur saya senggol banget ya, etapi pas decluttering masih nemu sebox gini. Mayan amazing ternyata ada banyak yang sudah jarang dipake, mulai botol, container box sampe dot nya Echa. Lets check this out :
Rapi dan Teratur
Kali ini declutternya seperti area pakaian dan buku kemarin, buka 1 pintu kabinet à keluarkan semua barangnya à seleksi berdasar kriteria à bersihkan lemari kabinet à masukkan kembali benda terpilih ke kabinet. Saya hanya punya 1 kardus dan 1 box nganggur, jadi barang-barang tidak terpilih sementara saya pilah berdasar 2 kategori yaitu masih layak pakai untuk didonasi/rehome, dan tidak layak pakai untuk disetor ke bank sampah.



Aman dan Nyaman
Saya lebih suka tampilan dapur dan barang dapur yang simple, sehingga untuk piring ataupun storage box lebih enak yang polos-polos aja. Untuk toples kaca bergambar, box warna-warni saya seleksi (kecuali tuppy karena cuma dikit) untuk dideclutter karena tidak sesuai dengan style saya.
Juga untuk beberapa box yang saya dapatkan dari beli makanan di resto, sepertinya perlu saya declutter karena plastik seperti itu kan ada masa berlakunya berapa kali pakai agar lebih aman untuk kami sekeluarga.
Sehat dan Bersih
Sambil berbenah dapur saya juga deep clean seluruh area dapur termasuk dalam kitchen kabinet dan pojok-pojokannya dibersihkan semua. Lumayan amazing karena lemarinya kan gak pernah dibuka ya, tapi kok ternyata dalemnya debuan. Dan termasuk bersihin sink cuci piring, lantai dan pojok-pojok dapur yang biasanya jarang tersentuh. Dan bersihinnya pake bahan alami semua biar sehat karena dapur kan tempatnya makanan ya, kalau pake cairan kimia mayan worry kan ya.
Alami dan berkelanjutan.
Beberes dapur kali ini saya gunakan bahan-bahan alami semua, alhamdulillah dapet banyak info dari teman-teman di grup gemari pratama. Bersihin
Sampah didapur kami alhamdulillah 80% sudah terpilah, memang hanya ada 1 tempat sampah didapur dan itupun penggunaannya untuk sampah residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan dan harus dibuang ke TPA dengan berat hati. Sisa sampah organik mentah saya kumpulkan perhari dan dimasukkan ke komposter didepan rumah. Botol-botol plastik saya cuci kering dan kumpulkan diteras, begitupun dengan sampah kertas dan kardus. Untuk sampah kemasan saya kumpulkan untuk dibuat jadi ecobricks, jelantah/minyak sisa juga dikumpulkan dan disetor ke bank sampah beserta kertas dan plastik. Kami tidak ingin kerusakan dibumi semakin parah, sehingga pilah sampah ini sebagai bentuk ikhtiar untuk hidup alami dan berkelanjutan.

Proses Organizing

Dari dapur senggol ternyata menghasilkan 2 box barang tak terpakai, heran juga sih saya padahal jarang banget belanja alat perdapuran. 2 box ini isinya kebanyakan dapat dari souvenir nikahan, mulai sendok, centong nasi, parutan sampai gelas, yang lainnya juga ada dot Echa yang sudah setahun gak dipake dan wajan serta spatula (dirumah kebanyakan spatula).



Hasil declutter tidak boleh dibuang sembarangan, jadi yang masih layak pakai saya rehome ke tetangga dan ibu rewang. Pagi ini bahkan wajan, sutil dan botol minum sudah diambil sama tetangga, lainnya nanti biar ibuk rewang yang milih mau bawa pulang yang mana. Sedangkan kotak makan sekali pakai yang biasa didapat kalau takeaway makanan rencananya besok mau dibuat pot nanam bayam dan sawi.Beberapa juga ada yang saya salurkan ke bank sampah seperti alat makan sekali pakai.
.

Setelah declutter trus jangan lupa ditata kembali ke kitchen kabinet, biar dapur ndak rungsep lagi karena selama berbenah kemarin dapur senggol ini malah jadi kayak gudang karena tak keluarin semua barangnya. Hahaha...Organizing jangan lupa disesuaikan dengan prinsip RASA yaa
Rapi dan Teratur
Penataan barang-barang di dapur dan kabinet dapur saya mix, antara berdasarkan kategori dan berdasarkan intensitas pemakaian tujuannya agar mempermudah dalam sirkulasi saat mengambil barang. Untuk alat masak yang sering dipakai digantung diluar, dan alat masak yg jarang dipakai ditaruh di kabinet bagian atas. Alat makan disimpan bersama alat makan lainnya, container box dan lunchbox disimpan dalam 1 tempat. Begitupun teko, panci-panci juga dalam 1 tempat.


Aman dan Nyaman
Dapur dirumah menurut saya sudah masuk ke kategori aman dan nyaman, aman karena saya pisah penempatan alat makan untuk Echa yang plastik dan melamin diluar (bisa diakses), dan alat makan pecah belah dimasukkan kedalam kabinet. Begitupun dengan colokan untuk barang elektronik, letaknya cukup tinggi sehingga tidak mudah dijangkau anak.
Nyaman karena meskipun dapur senggol, namun pencahayaan dan sirkulasi udara sangat baik. Atap dapur saya buat tinggi lebih dari 4 meter dengan 1m2 area dari polycarbonate dengan atas tumpang sehingga udara bisa masuk. Jadi kalo masak ikan asin ndak mulek baunya :p



Sehat dan Bersih
Penataan yang simple dan barang yang sedikit memudahkan saya untuk membersihkan kabinet dan area dapur. Sehingga dapur menjadi lebih bersih, dan juga bersih-bersih area dapur kali ini dsponsori oleh cuka dan baking soda saran dari teman-teman gemari untuk membersihkan sink cuci piring agar kinclong kembali. Bahan-bahan alami ini lebih sehat daripada menggunakan bahan kimia yang dijual di supermarket.



Alami dan Berkelanjutan
Selain menggunakan baking soda dan cuka, saya juga menggunakan sanitizer organik untuk membersihkan kabinet. Juga ecoenzym untuk mencuci piring (campur sabun cuci sih) dan membersihkan keramik area dapur. Selain memilah sampah, sebenarnya yang paling mudah apabila kami menghindari makanan dan minuman kemasan. Selama ini, saya sudah berusaha untuk membawa wadah sendiri dan kantong belanja serta alat makan cuci ulang. Semoga kebiasaan-kebiasaan baik di keluarga kami bisa terus berlanjut agar bumi kita lebih baik.
.

Ternyata deep cleaning dapur kalo niat cuma butuh 2 hari, minggu depan ketemu lagi dengan dapur part 2 yang lebih membahas bahan makanan dan meja makan. Dirumah meja makannya di ruang tamu sih, bukan di dapur. Baiklah, terima kasih sudah membaca.




.
.
.
#Task8GP2
#GP2Kelas2
#gemaripratama
#angkatan2
#klaster1
#gemaridapur
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu
#RASA

@cue_dil
Tugas ini ngerjainnya nyicil 2 malem buat narasi :D
151119

Sumber Bacaan
_Materi Kalster1-Dapur Part1, Gemar Rapi, 2019_
_Foto-foto dokumentasi pribadi, 2019_

Kamis, 07 November 2019

Aldila_Task Lecture 7

Klaster 1 - Buku





Masuk ke minggu ketujuh kelas Gemari dan minggu kedua proses berbenah, alhamdulillah masih diberikan semangat yang menggebu dan motivasi yang kuat untuk benar-benar mengubah mindset dan berbenah. Setelah minggu kemarin berbenah pakaian yang cukup menguras keringat...ceileh (lebay), minggu ini masuk ke materi buku. Kalo materi pakaian mayan makan waktu untuk proses decluttering dan bersih-bersihnya, buku ini makan waktu banget untuk memulai berbenahnya. Gimana gak makan waktu, saya kelamaan nongkrong didepan rak buku untuk mengecek dan memilih mana yang bisa dideclutter.  Namun, akhirnya alhamdulillah selalu ada jalan dan harus ada perubahan mindset agar penyakit lama tidak kambuh kembali.

.
Buku, adalah favorit item saya sejak kecil bahkan saya punya minus lumayan tinggi karena kebiasaan membaca yang kurang baik dimasa lalu. Hobi saya membaca mengalir dari ibu yang merupakan seorang guru. Saya ingat waktu jaman SD, nunggu ibuk selesai ngajar saya selalu nongkrong di perpustakaan sekolahnya. Hampir semua buku cerita di perpus sudah saya baca, pun saat jaman SMP happening persewaan novel dan komik, uang saku malah abis buat nyewa novel. Namun, koleksi buku bacaan saya jaman dulu memang sedikit, selain di Nganjuk tidak ada toko buku besar saya pun belum berpikir itu penting karena akses meminjam/membaca ditempat lain sangat mudah.
.
Saat saya bekerja dan punya penghasilan sendiri, barulah rajin membeli buku-buku. Mulai dari novel metropop, buku best seller hingga novel fiksi. Bahkan saya punya impian bikin perpustakaan mini dirumah untuk anak kelak, dan ternyata impian itu benar-benar terwujud. 1 rak buku di kamar anak untuk perpustakaan mininya, kenapa dikamar? Sesimple sudah ndak ada tempat, dan hanya bisa ditaruh kamar. Selain itu biar aktifitas sebelum tidurnya fokus untuk membaca.
.
Proses Decluttering
Rak buku dikamar Echa

Beginilah penampakan rak buku dirumah, 3 kotak bagian atas punya saya, 1 kotak buku agama dan umum, 1,5 kotak buku parenting dan 0,5 kotak buku resep dan buku jualan saya. Eh saya belum info ya, jadi saya punya family project untuk menggiatkan literasi, selain open library pada hari-hari tertentu juga memfasilitasi orangtua yang ingin membelikan buku anak dengan buka PO buku anak-anak. Beberapa yang udah kadung pesen dan dicancel akhirnya saya simpen, saya jual kalo laku ato untuk kado kalo ada temen Echa yang ulangtahun.
Buku Echa ada 6 kotak, saya bagi per kategori yaitu buku cerita, boardbook baby, buku islami, buku set2an, buku aktifitas dan buku pengetahuan. Hal ini untuk memudahkan saya dan Echa dalam mengambil dan menyimpan buku, agar segera ketauan semisal ada buku yang tidak pada tempatnya. Oh iya, selama ini saya belum punya aplikasi untuk bikin katalog semua buku ini..soon insya Allah download dan diupdate. Untuk detail sub kategori seperti tabel dibawah ini :
Buku Bunda
Buku Islami
Buku Parenting
Buku umum & Hobi
Buku Echa
Story Book
Babybook (boardbook)
Islamic Book

Boxset & Puzzle set
Activity Book
Pengetahuan Umum

.
Buku hasil hunting BBW yang belum dapat tempat

Dirumah hanya ada 1 rak buku, 1 rak ini mencakup buku saya dan buku Echa, buku bapaknya gak ada karena gak suka baca. Beli online di @ifurnholic Edwin 3 x 3 yang diletakkan di kamar Echa, dulu pas beli buku dirumah masih sedikit dan malah sebagian buat rak mainan. Setelah 1,5 tahun malah penuh dan kemarin-kemarin sempat overspace luber bukunya sampai  ada yang saya taruh storage box di pojokan untuk buku-buku yang sudah saya belikan namun belum sesuai usianya. Apalagi setelah BBW Surabaya sebulan lalu, beberapa buku saya masih taruh diatas drawer karena nunggu dibuka. Saya biasakan 1 buku 1 minggu semisal ada stock buku seperti ini, biar dia seneng dan ada reward kalau dalam seminggu sudah “goodgirl”.  Saya sempet ajukan proposal ke suami untuk ganti rak yang lebih besar, tapi sama suami boleh beli rak lagi kalo rak ini udah keluar dari rumah, nahloh PR lagi kan ngejual preloved beginian. Untungnya saya kenal gemar rapi dan ikut kelas ini, alhamdulillah setelah declutter 1 rak muat dan isi storage box pun berkurang. Bener-bener cuma tinggal 5 buku aktifitas yang belumsesuai usianya.
.
Kalau dibilang berlebih, sebenarnya buku-buku saya gak berlebih karena emang jumlahnya masih wajar dan alhamdulillah dibaca. Buku Echa yang jumlahnya lumayan ini akibat kekalapan emak hunting buku-buku dari BBW ke BBW dan sering ikutan open order kalo saya lagi open order buku anak. Namun, dengan membuka rumah baca untuk anak-anak sekitar buku segini dapat dimanfaatkan dengan maksimal karena gak cuma Echa aja yang baca. Tapi tetep kemarin membulatkan tekad untuk mulai decluttering semua buku ini dan selesai dalam semalam, ya selesai soalnya anaknya dititip ke bapaknya.  Untuk buku-buku Echa memang tidak terlalu banyak yang di-declutter, karena anaknya sudah saya tanya mana yang mau dikasihkan orang? Jawabannya ndak boleh, jadi demi menghormati barang miliknya saya sortir yang benar-benar sudah tidak bermanfaat.
Rapi dan Teratur
Buku 1 box dikeluarkan semua dan dipilah

Proses decluttering kali ini masih sama seperti declutter pakaian, saya keluarkan buku di 1 kotak kemudian dipilih berdasar kriteria (masih dibaca/digunakan, akan dibaca dalam waktu dekat), bersihkan box dan masukkan buku kembali. Untuk buku yang tidak lolos seleksi, dipisahkan untuk penanganan lebih lanjut.
Membersihkan seluruh permukaan rak buku tiap box
Aman dan Nyaman
Semenjak mempunyai anak interest saya bergeser, lebih ke bidang parenting especially metode pengasuhan anak. Untuk buku-buku parenting dan montessori yang sangat saya sukai masih dipertahankan, sedangkan beberapa novel dan metropop dideclutter agar lebih bermanfaat untuk orang lain.
Sehat dan Bersih
Sambil declutter rak buku ini, sambil saya bersihkan total semua rak dari debu. Dan untuk hasil declutter saya pisahkan dan salurkan, agar tidak menjadi sarang debu baru.
Alami dan Berkelanjutan
Seperti biasa, untuk membersihkan rak menggunakan all purpose sanitizer organik yang tidak merusak furniture. Hasil dari declutter segera saya salurkan, untuk buku novel  dihibahkan ke teman-teman kantor (alhamdulillah hari ini sudah saya kasihkan), sedangkan buku activity yang sudah selesai dikerjakan Echa dan tidak sesuai usia saya setor ke bank sampah perumahan.
Buku-buku yang didecluttering

.
Proses Organising
Menyimpan buku, kalau dulu belum punya rak khusus selalu saya letakkan diatas drawer/rak dengan diberi penyangga buku dari besi untuk ujung-ujungnya. Tujuannya semata-mata agar terlihat dan tahu saya punya buku apa saja. Setelah kenal gemar rapi penataan buku-buku saya seperti berikut :
Rak buku setelah dideclutter

Rapi dan Teratur
Semua buku yang ada dirumah diletakkan di rak buku, tidak ada yang berceceran kecuali buku tema di rak montessori. Penataan secara vertikal dan ditampakkan judul bukunya, dipisah per kotak per kategori.
Aman dan Nyaman
Sengaja saya taruh buku-buku saya dirak bagian atas,  buku-buku Echa di rak no 2 dan 3 agar lebih mudan dan aman untuk Echa. Tidak ada acara manjat-manjat rak untuk mengambil buku.
Sehat dan Bersih
Penataan secara vertikal selain agar lebih terlihat, juga agar tidak mengundang debu. Karena kalo kita ambil 1  buku sekalian bisa membersihkan rak bagian itu, kalau ditata horizontal bagian buku yang paling bawah jarang terambil dan akhirnya membuat sarang debu.
Alami dan berkelanjutan
Berpikir berkali-kali sebelum membeli buku, kurang-kurangi ikutan PO buku, biar anaknya aja yang langsung milih di toko. Dan juga habit penataan seperti ini agar terus terjadi.
.
Selama ini di keluarga kami sudah ada beberapa kebiasaan baik terkait buku yang diaplikasikan, yaitu :
Kebiasaan Harian
1.      1 in 1 out, kembalikan buku sebelum mengambil 1 buku lagi
2.      Merapikan/mengembalikan buku-buku yang dibaca sebelum tidur
3.      Membuat read time, 15-30 menit waktu membaca buku sebelum tidur
Kebiasaan Mingguan
1.      Merotasi buku display di rak montessori sesuai dengan tema belajar minggu tersebut
2.      Membersihkan rak buku dan mengelap semua bagian setiap 1 minggu sekali
Kebiasaan Bulanan
1.      Memeriksa buku-buku baik di rak, maupun storage box mana yang bisa dideclutter
.
Buku-buku milik saya pribadi ada sekitar 30, tidak terlalu banyak memang dan yang belum dibaca ada 2 buku (bahkan belum dibuka sampulnya) berarti ada 93% buku alhamdulillah sudah selesai dibaca. Yaitu buku parenting “Don’t be angry mom” dan “Portofolio anak” yang saya beli beberapa bulan yang lalu. Buku Echa buanyak, belum saya hitung berapa dan yang belum dibaca hanya 12 buku hasil hunting BBW kemarin. Buku-buku ini rencananya mau saya buat untuk materi homeskul kami, karena berisi tentang cuaca dan bumi.
.

Minggu buku yang lumayan bikin saya berpikir dan bersikap “tega” akhirnya terlewati, kedepannya semoga saya lebih banyak pertimbangan dalam membeli buku agar tidak terlalu menumpuk buku dirumah. Sampai jumpa di minggu depan dengan area dapur yang sepertinya lumayan memakan waktu, meskipun declutternya pasti gak pake mikir kalo saya :D
.
.
.
#Task7GP2
#GP2Kelas2
#gemaripratama
#angkatan2
#klaster1
#gemaribuku
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu
#RASA

@cue_dil
nulis nyambi rapat dan kelar sejam

Sumber Bacaan :
_Materi Klaster 1 – Buku, Gemar Rapi, 2019_
_Foto-foto dokumentasi pribadi, 2019_



Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 6

Challenge 6 : Perempuan Indonesia – Penjaga Lokalitas, Pelaku Aksi Global   Langkah 1 : Mengenali Perempuan Inspiratif Saya membaca-ba...