Jumat, 29 Maret 2019

Aldila_NHW #9


Bunda Sebagai Agen Perubahan



Berada di last NHW dan jadi baper, kok cepet ya ternyata perkuliahan kelas Matrikulasi ini. Yang biasanya tiap Selasa ada diskusi materi, dan tiap Senin pagi deadline NHW (meskipun gak pernah telat sampe Senin pagi sih), terus nanti gak ada pasti ada yang dikangenin. Dari yang gak sayang diri sendiri karena gak pernah mikir manfaat hidup, sampe mikirin orang lain alias kebermanfaatan diri untuk sekitar. Wow banget kan apa yang saya dapatkan dan perubahan dalam hidup saya selama mengikuti kelas Matrikulasi ini. Dan berakhir saya nyesel...iyah nyesel kenapa kok baru ikut IIP pas batch 7, kenapa gak ikut dari batch dulu-dulu. Tapi lebih baik terlambat kan daripada tidak sama sekali J
.
Minggu ke 9 memasuki materi pada Ranah Bunda Shalehah, yaitu Bunda Sebagai Agen Perubahan. Seperti kita tahu, mendidik seorang perempuan itu sangat penting karena :

“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Hal ini berarti apabila ada 1 ibu membuat perubahan, akan terbentuk pula perubahan 1 generasi yaitu generasa anak-anak kita. Perubahan ini dimulai dari ranah aktifitas kita yang mungkin saja menjadi Misi Spesifik hidup kita. Setelah kita menemukan jalan hidup, kemudian mulailah membangun Changemaker Family dalam ruang lingkup keluarga kita. Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah kita bisa perlahan-lahan merubah lingkungan sekitar kita dan dari hal kecil yang kita bisa.
.
Indikator Bunda Shalehah adalah bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena kita sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi dan bermanfaat di dunia sehingga akhirnya akan memiliki rasa TENTRAM.
.
Nah, di NHW 9 kali ini kita diminta untuk mulai melihat isu sosial di sekitar dan membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang dipakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.
.
Sehingga untuk membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, kemudian membuat sebuah usaha yang berkelanjutan yang bermula dari menemukan passion sehingga menjadi orang yang merdeka untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal ini membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreuneur yang kita miliki.
.
Disclaimer dulu ya, apapun yang saya tulis terkait NHW ini tidak ada maksud apapun untuk memojokkan, ataupun membandingkan pihak-pihak lain. Karena apa yang saya tulis sesungguhnya memang berasal dari pengalaman saya dan insyallah berniat baik.


.
Okey, baca quotes diatas adalah sesuatu yang saya alami dan banyak ibu-ibu hadapi dalam keseharian mereka. Yapp..menjadi working mom adalah suatu pilihan atau bahkan keharusan, kita tidak bisa membandingkan atau bahkan menjudge mereka karena kita tidak tahu keadaan mereka.  
Ibu saya adalah seorang PNS guru, beliau juga working mom dan superwoman menurut saya. Beliau setiap pagi bangun lebih pagi daripada orang serumah, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Saya berangkat sekolah harus sarapan dan dibawakan bekal dari rumah, setiap selepas magrib ibu selalu menemani saya belajar. Dan dari beliau saya belajar, bahwa seorang ibu harus selalu ada untuk keluarga dan senantiasa belajar. Bahkan di usianya yang sekarang 55 tahun, masih mengajar dan belajar. Karena tugas guru sekarang macem-macem, dan harus mahir komputer serta paham internet.
Hal yang saya anggap sukses terhadap ibu saya, beliau berhasil mengantarkan saya dan adik sampai sukses dan dalam kariernya beliau juga sukses, sampai berhasil menjuarai Guru Berprestasi di tingkat Provinsi di usianya yang tidak muda lagi.
.
Termasuk saya, seorang ibu yang bekerja di ranah publik, disatu sisi saya bahagia karena apa yang saya kerjakan sesuai dengan ilmu yang saya pelajari dan pekerjaan yang saya hadapi juga saya sukai. Namun, disisi lain lain juga punya anak yang berhak untuk mendapatkan pengasuhan dan pendidikan dari saya. Keadaan ini lumayan pelik, sehingga saya harus berkorban lebih untuk menyeimbangkan keduanya agar tidak timpang. Saya termasuk orang yang kelebihan energi dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akhirnya merasa haus akan ilmu, banyak belajar, banyak membaca, banyak bertanya agar tidak sesat. Salah satu ikhtiar saya mencari ilmu adalah dengan ikut IIP ini, karena saya bisa mempunyai teman satu visi, wadah untuk belajar dan konsistensi untuk berubah lebih baik.
.
Namun, diluar sana tidak semua ibu seperti saya, atau bahkan ibu saya yang saya anggap keren. Banyak juga working mom yang sudah capek bekerja sehingga sisa energinya yang digunakan untuk mengasuh anak. Boro-boro waktu untuk belajar, untuk membersamai anak saja kurang. Mereka berangkat ketika anak masih tidur, dan pulang saat anak sudah tidur. Ironis sekali kan, padahal mereka bekerja juga untuk anak dan keluarga namun waktunya habis untuk bekerja. Apalagi untuk belajar dan mencari ilmu, sehingga berakhir kurang ilmu dalam mengasuh dan mendidik anak. Bahkan ada juga yang sesat, karena ibu-ibu jaman sekarang kiblatnya ke mommygram yang belum tentu bener, apalagi momshaming terselubung yang hanya menyajikan keadaan-keadaan ideal menambah daftar alasan untuk jadi baper dan worry berkepanjangan. Hehehe...
.
Berlatar belakang hal-hal tersebut dan ternyata permasalahan-permasalahan itu nyata adanya disekitar environment circle saya sehingga saya berniat untuk membuat social venture seperti dibawah :



Home Sharing, seperti sebuah rumah tempat kita berdiskusi, tempat kita bertanya dan tempat yang nyaman tanpa adanya judging atau momshaming yang berisikan para working mommies yang kekurangan info ataupun fakir ilmu. Kenapa saya bisa terpikir membuat home sharing “Empowering of Working Mommies” ? Karena selama ini banyak teman-teman saya sesama ibu bekerja di ranah publik yang tanya lewat WA, dm IG ataupun tanya langsung tentang ASI, MPASI bahkan montessori. Gak cuma temen kantor aja loh, temen kuliah, SMA bahkan adik kelas, karena saya sering share pengalaman-pengalaman saya selama menjadi ibu.


.
Saya bukan ahli, saya juga ibu baru yang sedang belajar tapi saya suka diajak berdiskusi dan ngobrol dengan mereka. Ini mungkin salah satu bakat saya yaitu berteman dan menjalin networking yang luas. Bagi saya berbagi adalah sebuah amal, membagikan ilmu adalah amal jariyah yang pahalanya tidak akan putus. Semoga niat baik saya ini mendapatkan jalan yang mulus dan lancar.
.
Untuk sekarang dan sejauh ini, langkah yang sudah saya lakukan untuk mewujudkan mimpi saya adalah bikin playdate dirumah sama temen-temen kantor. Saya welcome sekali kalo ada yang main kerumah, biasanya kalo hari Sabtu suka ada temen-temen yang main untuk sekedar sharing, pinjem buku ato mainan dirumah sama anaknya. Kegiatan ini bisa jadi wadah untuk saling bertukar info loh, baik info seputar perkembangan anak juga info barang yang lagi diskon #ehh.
.
Selain itu juga dalam waktu dekat kita mau bikin grup sharing dan bakal ada materi-materi yang dibahas tiap minggunya. Jadi nantinya bisa ganti-gantian yang ngisi materi, gak cuma saya aja karena ilmu saya juga terbatas buk. Saya juga dibantu teman yang seorang psikolog, dia belum menikah tapi concern dan prihatin dengan banyak ibu yang seringkali tersesat dengan mitos dan katanya-katanya. Mimpi kita ingin membuat semacam seminar gitu, tapi sementara ini masih fokus di grup sharing kita.
.
Dan cita-cita saya yang lebih tinggi, tidak ada ibu lagi yang tersesat dalam kebutaan arah mendidik anak. Belajar tidak melulu dengan sekolah, tapi belajar dari orang lain yang sumbernya jelas dan saling mendukung satu sama lain tanpa adanya momshamming.
.
Alhamdulillah selesai sudah NHW #9 ini, terima kasih kepada Bu Walas dan Bu Fasil yang sabar dan telaten dalam membimbing kelas kami selama 9 minggu ini, terima kasih kepada ayah dan Echa yang memberikan waktu kepada Bunda satu jam di malam hari untuk fokus belajar, dan terima kasih kepada teman-teman kelas Surabaya Raya 1 yang sefrekuensi dan saling mendukung untuk belajar. Semoga apa yang saya tuliskan dalam 9 NHW tidak hanya menjadi tulisan, tetapi menjadi panduan dalam kehidupan saya kedepan. Aamiin...
.
.
.
cue_dil
29032019
ditulis dengan perasaan baper karena kok udah mentok kuliahnya, kusedih



Institut Ibu Profesional, Kelas Matrikulasi, Materi 9,Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2019

Institut Ibu Profesional, Kelas Matrikulasi,NHW #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2019






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konferensi Perempuan Indonesia 2025 - Challenge 6

Challenge 6 : Perempuan Indonesia – Penjaga Lokalitas, Pelaku Aksi Global   Langkah 1 : Mengenali Perempuan Inspiratif Saya membaca-ba...